Jumat, 22 Februari 2013

penetapan gigit GTL


Penetapan gigit
a.persipan pembuatan basis, galengan gigit dan persyaratannya dalam mulut
Galangan gigit
Galangan gigit digunakan untuk menentukan tinggi bidang oklusal, bentuk lengkung (yang dikaitkan dengan aktivitas bibir, pipi, dan lidah), catatan awal hubungan antar-rahang dalam arah vertikal dan horizontal (termasuk dukungan wajah sementara), dan perkiraan jarak interoklusal. Terletak sejajar dengan garis puncak lingir yang telah digambar. Tinggi galangan gigit sebesar panjang gigi ditambah dengan penyusutan jaringan alveolar yaitu kira kira 10-12 mm. (Zarb, 2002)

Penetapan gigit
Pasien diminta duduk dengan enak dan posisi tegak, lalu galangan gigit rahang atas dimasukkan ke dalam mulut pasien dan dilakukan penetapan gigit.
A. Pada Rahang Atas
1. Adaptasi basis
 Basis harus diam di tempat, tidak boleh mudah lepas atau bergerak karena dapat mengganggu pekerjaan tahap selanjutnya
 Permukaan basis harus rapat dengan jaringan pendukung
 Tepi basis tidak boleh terlalu panjang atau pendek (Itjiningsih, 1993)
2. Dukungan bibir dan pipi
Setelah galangan gigit dipasang di dalam mulut,
 Estetika.
Estetika juga dipengaruhi oleh relasi vertikal antara maksila dan mandibula. Pengamatan terhadap kulit bibir dibandingkan dengan kulit bagian lain dari wajah dapat dipakai sebagai petunjuk. Dalam keadaan normal, tonus kulit harus sama di bagian manapun. Tetapi posisi relatif gigi dalam arah anteroposterior paling sedikit sama terlibat dalam relasi vertikal rahang dan dalam perbaikan tonus kulit. Kontur labial tergantung pada struktur intrinsik serta dukungan di belakangnya. Karena itu dokter gigi harus pertama kali membentuk kontur permukaan labial galangan gigit sehingga semirip mungkin dengan posisi anteroposterior gigi-gigi serta kontur basis gigi tiruan, yang juga harus menggantikan dan memperbaiki dukungan jaringan yang diberikan oleh struktur aslinya. (Zarb, 2002)
 Kontur labial dari galangan gigit rahang atas dibentuk untuk mengembalikan bibir atas ke posisi pra pencabutan. (Watt dan McGregor, 1992)
 Pasien harus nampak normal seakan-akan seperti bergigi. Hal ini dilihat dari sulkus naso-labialis dan philtrum pasien nampak tidak terlalu dalam atau hilang alurnya
 Bibir dan pipi pasien tidak boleh nampak terlalu cembung (Itjiningsih, 1993)

Tinggi galangan gigit
 Tingginya sesuai dengan panjang gigi ditambah dengan jumlah penyusutan jaringan alveolar yang telah terjadi. Bibir atas dapat menjadi petunjuk apakah panjangnya memadai. Bidang oklusal posterior dibuat sejajar dengan garis tragus-alanasi berdasarkan posisi bidang oklusal yang paling wajar. (Zarb, 2002)
 Pedoman untuk galangan gigit rahang atas adalah low lip line. Yaitu pada saat pasien dalam keadaan rest position, garis insisal / bidang oklusal / bidang orientasi galangan gigit rahang atas setinggi garis bawah bibir atas dilihat dari muka. Sedangkan apabila dilihat dari lateral sejajar dengan garis tragus-alanasi.

 Apabila pasien tersenyum, garis insisal / bidang orientasi galangan gigit rahang atas terlihat kira-kira 2 mm di bawah sudut bibir. (Itjiningsih, 1993)
4. Bidang orientasi
Bidang orientasi didapat dengan mensejajarkan:
 Bagian anterior dengan garis antarpupil
 Bagian posterior dengan garis camper yang ditarik melalui tragus (porion) hingga ala nasi. (Itjiningsih, 1993)


B. Pada Rahang Bawah
1. Adaptasi basis
 Basis harus diam di tempat, tidak boleh mudah lepas atau bergerak karena dapat mengganggu pekerjaan tahap selanjutnya.
 Pada rahang bawah tidak dapat sebaik rahang atas karena basis lebih sempit serta ada gangguan pergerakan lidah. (Itjiningsih, 1993)

2. Penetapan dimensi vertikal
 Secara Fisiologis
Pasien diminta istirahat ketika galangan gigit berada di dalam mulut, dengan duduk tegak dan kepala tidak ditopang. Setelah galangan gigit dipasang dalam mulut pasien, pasien menelan dan mandibula diistirahatkan. Setelah pasien terlihat benar-benar santai, bibir dibuka untuk melihat besarnya ruangan yang tersedia di antara galangan gigit. Pasien harus membiarkan dokter gigi membuka bibirnya tanpa perlu dibantu dan tanpa menggerakkan rahang atau bibirnya. Jarak antar-oklusal pada posisi istirahat ini besarnya harus 2-4 mm dilihat di daerah premolar. (Zarb, 2002)
Dengan penerapan rumus
Dimensi vertikal = rest position free way space
Pertama diukur dimensi / jarak vertikal pasien dalam keadaan istirahat tanpa galangan gigit. Kemudian dikurangi dengan free way space sebesar 2-4 mm. (Itjiningsih, 1993)
3. Penyesuaian tinggi permukaan bidang oklusal
 Bila galangan gigit sudah retentif pasien diminta untuk menutup mulut perlahan-lahan dengan kedua galangan gigit terpasang. Dua jari telunjuk ditempatkan pada galangan gigit di daerah premolar bawah dan pada saat pasien menutup mulut dengan perlahan jari digerakkan kearah bukal tetapi tetap berkontak dengan permukaan oklusal dari kedua galangan gigit.

 Perhatikan dengan cermat titik-titik yang pertama kali berkontak antara galangan gigit atas dan bawah.
 Bila terjadi kontak pertama, tinggalkan satu jari di antara kedua galangan gigit untuk mempertahankan celah. Kemudian dengan pisau malam digambar garis pada permukaan bukal dari galangan gigit bawah. Garis ini menunjukkan jumlah malam yang harus dibuang dari
galangan gigit bawah sehingga dapat berkontak rata dengan galangan gigit rahang atas.
 Galangan gigit rahang bawah dilepas dari mulut dan dikurangi sampai garis dengan pisau malam, kemudian permukaannya diratakan.
 Sebaiknya permukaan oklusal tidak dibuat melampaui molar pertama karena kontak oklusal di atas ujung posterior yang miring akan cenderung menggeser galangan gigit. Akan tetapi basis harus tetap menutup seluruh daerah gigi tiruan.
 Galangan gigit rahang bawah dimasukkan kembali ke dalam mulut dan pasien diminta untuk menutup dengan lidahnya ditarik ke belakang kearah tenggorokan. Lalu diperiksa apakah kedua galangan gigit berkontak rata. Penyesuaian dilanjutkan dan galangan gigit rahang bawah terus dikurangi sampai didapatkan kontak yang rata. (Watt dan McGregor, 1992)

C. Pencatatan akhir
1. Bila telah puas dengan kedudukan yang telah dicatat, goreskan dua garis vertikal menyilangi garis kontak antara galangan gigit atas dan bawah pada daerah premolar di kedua sisi. Pasien diminta untuk menutup mulut pada posisi ini beberapa kali dan diperiksa apakah garis-garis tersebut bertepatan.
2. Bila telah memuaskan garis tengah mulut ditandai di bawah filtrum bibir waktu pasien tersenyum. Kemudian tandai garis tinggi bibir untuk menggambarkan posisi bibir yang tertinggi selama tersenyum. Serta pada permukaan labial dari galangan gigit, posisi dari batas bibir bawah pada saat pasien tersenyum. Garis lengkung ini menunjukkan kontur dari tepi-tepi insisal gigi atas.
3. Periksa garis-garis tersebut. Bila telah memuaskan kedua galangan gigit dapat dilepas.

4. Pada kedua sisi galangan gigit atas dibuat cekungan berbentuk V di antara garis yang digoreskan ini.
5. Lekatkan sebutir kecil malam yang telah dilunakkan atau sedikit pasta pencatat pada kedua sisi galangan gigit bawah di antara garis yang tertera. Banyaknya sesuai dengan jumlah malam yang dikerat di rahang atas.
6. Galangan gigit atas dipasang kembali dan saat malam masih lunak galangan gigit dipasang pada tempatnya dan pasien disuruh menutup pada kontak mundur. Tunggu hingga pasta atau malam mengeras.
7. Pastikan kontak kedua galangan gigit baik dan garis yang dibuat saling bertepatan. Kemudian kedua galangan gigit dapat
dilepas secara bersamaan.
8. Kemudian lekatkan kedua galangan gigit dengan menguncinya dengan pisau malam yang dipanaskan setelah itu ditempatkan pada model kerja masing-masing. (Watt dan McGregor, 1992)

Daftar Pustaka
Watt, David M dan MacGregor, A. Roy. 1992. Membuat Desain Gigi Tiruan Lengkap. Jakarta: Hipokrates. Pp : 187-197
W.H. Itjiningsih. 1993. Geligi Tiruan Lengkap Lepas. Jakarta: EGC. Pp : 62-73
Gunadi, Haryanto. A; Burhan, Lusiana A.; Suryatenggara, Freddy. 1995. Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan Jilid 1. Jakarta: Hipokrates. Pp : 112-116
Zarb, George A. 2002. Buku Ajar Prostodonti untuk Pasien Tak Bergigi Menurut Boucher. Jakarta: EGC. Pp : 261-263

Kamis, 21 Februari 2013

tie a yellow ribbon around the old oak tree

"tie a yellow ribbon around the old oak tree"

I'm coming home I've done my time And I have to know what is or isn't mine
If you received my letter Telling you I'd soon be free Then you'd know just
what to do If you still want me If you still want me Oh tie a yellow ribbon
'Round the old oak tree It's been three long years Do you still want me If I
don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree I'll stay on the bus,
forget about us Put the blame on me If I don't see a yellow ribbon 'Round
the old oak tree Bus driver please look for me 'Cause I couldn't bare to see
what I might see I'm really still in prison And my love she holds the key A
simple yellow ribbon's all I need to set me free I wrote and told her please
Oh tie a yellow ribbon 'Round the old oak tree It's been three long years Do
you still want me If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree
I'll stay on the bus, forget about us Put the blame on me If I don't see a
yellow ribbon 'Round the old oak tree Now the whole damn bus is cheering And
I can't believe I see A hundred yellow ribbons 'Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree


lagu tahun 70-an ini menceritakan tentang kisah nyata sebuah harapan seorang suami yang merasa bersalah terhadap istri dan anak anaknya, kisah nyata seorang pria yang hidup di georgia , amerika. yang meninggalkan keluarganya untuk pergi ke amerika. namun dalam perjalanan tidak semudah yang di banyangkan, menjadi sukses hanya dalam waktu sekejab selanjutnya mulai terlibat dengan tindakan kriminal sehingga di masukkan dalam penjara.

di dalam penjara dia mulai merindukan istri dan anak-anaknya, yang telah ditinggalannya bertahun-tahun yang lalu, ahirnya menulis sepucuk surat, dan menyatakan betapa rindu dan menyesalnya, dan memohon agar memaafkan kesalahannya :)dan di ahir suratnya  menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku.

Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan?
Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?

Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan- pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.
Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya...
Dia tidak melihat sehelai pita kuning...
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tidak ada sehelai......

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon
beringin itu...Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...:)


SubhaAllah, Allah swt memang maha membolak balikkan hati dan keadaan:) 


Rabu, 20 Februari 2013


renungan pelangi

diantara buku buku yang aku baca,ada satu buku yang sangat menarik judulnya perempuan pencari tuhan, sebuah buku yang mengajarkan kelembutan hati seorang wanita yang berusaha lembut dalam arus hidup yang semakin modern, seorang wanita yang rindu akan punguasa sang khalik dan berusaha menjadi salah satu wanita penghuni syurga :)
semoga kita salah satunya amin :)

yang aku tahu untuk menjadi lebih baik slalu diikuti dengan cobaan, seperti pepatah semakin tinggi pohon maka akan semakin kuat anginnya. rindu ade ini bener bener mengelitik hati untuk slalu merasa bersyukur, dan menjadi wanita dikebun hikmah.

dan membuatku belajar bahwa hidup itu seperti gula, kadang kita harus merasakan manisnya gula agar tahu rasanya manis . kita tidak pernah tahu rasanya kelaparan di pinggir jalan dan dinginnya pagi tanpa sepoci teh , semoga buku ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya :)

dan rindu ade mengajarkan kita "ketika masalah datang, Allah tidak akan meminta kita memikirkan jalan keluar hingga penat, Allah hanya meminta kita sabar dan sholat "